Kesakralan Pura di Bali
1. PURA BESAKIH
Pura
Besakih, yang juga merupakan Pura terbesar di Pulau Bali ini terletak di
Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Pura Besakih
merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura di Bali. Pembangun Pura
Besakih adalah seorang tokoh agama Hindu dari India yang telah lama
menetap di pulau Jawa, nama beliau adalah Rsi Markandeya.
Jika sekarang anda lihat sebuah bangunan Pura megah, dulunya lokasi dari Pura ini adalah hutan belantara. Tentunya anda dapat membayangkan hutan belantara jaman dulu, pastinya akan banyak terdapat binatang buas. Konon dikala itu belum terdapat selat Bali seperti sekarang, karena pulau Jawa dan pulau Bali masih menjadi satu dan belum terpisahkan oleh lautan. Karena saking panjangnya pulau yang kita sebut sekarang dengan sebutan pulau Jawa dan pulau Bali, maka pulau ini diberi nama pulau Dawa yang artinya pulau panjang.
Jika sekarang anda lihat sebuah bangunan Pura megah, dulunya lokasi dari Pura ini adalah hutan belantara. Tentunya anda dapat membayangkan hutan belantara jaman dulu, pastinya akan banyak terdapat binatang buas. Konon dikala itu belum terdapat selat Bali seperti sekarang, karena pulau Jawa dan pulau Bali masih menjadi satu dan belum terpisahkan oleh lautan. Karena saking panjangnya pulau yang kita sebut sekarang dengan sebutan pulau Jawa dan pulau Bali, maka pulau ini diberi nama pulau Dawa yang artinya pulau panjang.
Awal
mulanyan, Rsi Markandeya pendiri dari Pura ini bertapa di Gunung Hyang
(Gunung Dieng di Jawa Tengah). Setelah lama bertapa Rsi Markandeya
mendapat wahyu untuk merambas hutan di Pulau Dawa dari selatan menuju ke
utara. Ditempat perambasan hutan, Rsi Markandeya menanam kendi yang
berisikan logam dan air suci. Logam tersebut antara lain logam emas,
logam perak,logam tembaga, logam besi dan logam perunggu. Kelima logam
tersebut dimasyarakat Bali disebut dengan mama Pancadatu. Selain logam
juga turut serta ditanam permata yang disebut Mirahadi yang artinya
mirah utama. Tempat penanaman kendi inilah yang disebut dengan nama
Basuki yang artinya selamat. Diberikan nama Basuki atau selamat
dikarenakan dalam perambasan hutan para pengikut dari Rsi Markandeya
selamat melaksanakan tugasnya. Dengan berjalanyan waktu nama Basuki
berubah menjadi Besakih.
2. PURA ULUWATU

Keindahan
dari Pura ini akan dapat anda nikmati langsung jika anda berkunjung ke
Pura ini. Pura Uluwatu berada di wilayah Desa Pecatu,Kecamatan
Kuta,Badung.Pura yang identik dengan ciri khas yang terletak di ujung
barat daya pulau Bali, di atas Anjungan Batu Karang yang terjal dan
tinggi dan menjorok kelaut ini merupakan pura untuk memuja dewa Rudra
Pura Luhur Uluwatu dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya
sebagai pura untuk memuja Tuhan sebagai Batara Rudra.
Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena itu umumnya banyak umat Hindu sangat yakin di Pura Luhur Uluwatu itulah sebagai media untuk memohon karunia menata kehidupan di bumi ini. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya Moksah atau Ngeluhur di tempat ini.
Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena itu umumnya banyak umat Hindu sangat yakin di Pura Luhur Uluwatu itulah sebagai media untuk memohon karunia menata kehidupan di bumi ini. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya Moksah atau Ngeluhur di tempat ini.
3. PURA LUHUR TANAH LOT

Pura
Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah
kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Pembangunan pura ini erat kaitannya
dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini beliau
pernah tinggal dan mengajar agama dalam perjalanannya dari Pura Rambut
Siwi menuju Badung.Pujawali diadakan tiap Buda Wage Langkir. Pelinggih
utamanya ada dua, satu untuk memulyakan Hyang Widi dalam manifestasinya
sebagai Batara Baruna dan satu lagi untuk Danghyang Nirarta sebagai
pendiri tempat ini.
Suatu
ketika, Danghyang Niratha melakukan perjalanan dari Pura Rambut Siwi
yaitu pada sekitar tahun Icaka 1411 (1489M). Dalam perjalannya itu
beliau dibuntuti oleh banyaknya anggota masyarakat yang mengikuti karena
mengharapkan berkahnya. Ketika sampai di desa Beraban beliau menemukan
tempat yang baik untuk bermalam dan sekaligus mengajar agama. Tempat
itulah yang akhirnya dibangunnya menjadi sebuah pura yang sekarang
memikat perhatian seluruh dunia karena keindahanya.
Dahulu
Pura Kahyangan ini diberi nama Pura Pekendungan, sekarang lebih dikenal
dengan Pura Tanah Lot sebagai salah satu penyungsungan jagat. Kini Pura
Kahyangan ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, tetapi sudah ke
seluruh dunia. Pemandangan alamnya merupakan obyek wisata yang diincar
oleh wisatawan dunia.
4. PURA TAMAN AYUN

Taman
Ayun adalah sebuah pura sekaligus tempat wisata yang terletak di Desa
Mengwi, Kecamatan Mengwi,Kabupaten Badung. Pada awalnya Taman Ayun
adalah sebuah kerajaan yang dibangun oleh Raja Mengwi bernama I Gusti
Agung Ngurah Made Agung pada tahun 1634 yang hanya dipergunakan untuk
kalangan keluarga kerajaan Mengwi. Kerajaan Mengwi juga merupakan salah
satu kerajaan di Bali karena perekembangannya kerajaan Mengwi ditaklukan
oleh kerajaan Badung.
Taman Ayun memiliki arti sendiri Taman yang berarti Taman dan Ayun yang berarti Cantik. Taman ini memang sangat asri dan cantik, Pura atau taman ini berdiri diatas dan dikelilingi oleh sungai mengwi terlebih lagi di dalam taman ini ada sebuah museum manusia yadnya yang meperlihatkan sebuah ritual di Bali dari dalam kandungan hingga meninggal. Taman Ayun pernah hancur akibat gempa dashyat dan direnovasi kembali pada tahun 1934.
Taman Ayun memiliki arti sendiri Taman yang berarti Taman dan Ayun yang berarti Cantik. Taman ini memang sangat asri dan cantik, Pura atau taman ini berdiri diatas dan dikelilingi oleh sungai mengwi terlebih lagi di dalam taman ini ada sebuah museum manusia yadnya yang meperlihatkan sebuah ritual di Bali dari dalam kandungan hingga meninggal. Taman Ayun pernah hancur akibat gempa dashyat dan direnovasi kembali pada tahun 1934.
5. PURA GUA LAWAH

Pura
Goa Lawah berlokasi di Kecamatan Dawan Klungkung.Pura Goa Lawah yang
dihuni oleh ribuan kelelawar ini termasuk sebagai Kahyangan Jagat atau
Sad Kahyangan.Tidak diketahui pasti siapa pendiri Pura dan kapan
berdirinya,tetapi pura ini diperkirakan dbangun pada abad ke-11 oleh Mpu
Kuturan. Di bagian Pura,tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih
Sangggar Agung sebagai pemujaan Ida Sang Hyang Widhi,Meru Tumpang
Tiga,Gedong Lima Sari dan Gedong Limas Catu. Dalam tradisi Hindu di
Bali, Tuhan sebagai Dewa Laut itu disebut ”Bhatara Tengahing Segara”. Di
Bali Pura Goa Lawah merupakan Pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa
Laut. Pura Goa Lawah inilah sebagai pusat Pura Segara di Bali untuk
memuja Tuhan sebagai Dewa Laut.
Dalam Lontar Prekempa Gunung Agung diceritakan Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai Naga Basuki. Dewa Iswara menjadi Naga Taksaka. Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu itu kepalanya ke laut menggerakan samudara agar menguap menjadi mendung. Ekornya menjadi gunung dan sisik ekornya menjadi pohon-pohonan yang lebat di hutan. Kepala Naga Basuki itulah yang disimbolkan dengan Pura Goa Lawah dan ekornya menjulang tinggi sebagai Gunung Agung. Pusat ekornya itu di Pura Goa Raja, salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Karena itu pada zaman dahulu goa di Pura Goa Raja itu konon tembus sampai ke Pura Goa Lawah. Karena ada gempa tahun 1917, goa itu menjadi tertutup.
Keberadaan Pura Goa Lawah ini dinyatakan dalam beberapa lontar seperti Lontar Usana Bali dan juga Lontar Babad Pasek. Dalam Lontar tersebut dinyatakan Pura Goa Lawah itu dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI Masehi dan kembali dipugar untuk diperluas pada abad ke XV Masehi. Dalam Lontar Usana Bali dinyatakan bahwa Mpu Kuturan memiliki karya yang bernama ”Babading Dharma Wawu Anyeneng’ yang isinya menyatakan tentang pendirian beberapa Pura di Bali termasuk Pura Goa Lawah dan juga memuat tahun saka 929 atau tahun 107 Masehi.
Dalam Lontar Prekempa Gunung Agung diceritakan Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai Naga Basuki. Dewa Iswara menjadi Naga Taksaka. Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu itu kepalanya ke laut menggerakan samudara agar menguap menjadi mendung. Ekornya menjadi gunung dan sisik ekornya menjadi pohon-pohonan yang lebat di hutan. Kepala Naga Basuki itulah yang disimbolkan dengan Pura Goa Lawah dan ekornya menjulang tinggi sebagai Gunung Agung. Pusat ekornya itu di Pura Goa Raja, salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Karena itu pada zaman dahulu goa di Pura Goa Raja itu konon tembus sampai ke Pura Goa Lawah. Karena ada gempa tahun 1917, goa itu menjadi tertutup.
Keberadaan Pura Goa Lawah ini dinyatakan dalam beberapa lontar seperti Lontar Usana Bali dan juga Lontar Babad Pasek. Dalam Lontar tersebut dinyatakan Pura Goa Lawah itu dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI Masehi dan kembali dipugar untuk diperluas pada abad ke XV Masehi. Dalam Lontar Usana Bali dinyatakan bahwa Mpu Kuturan memiliki karya yang bernama ”Babading Dharma Wawu Anyeneng’ yang isinya menyatakan tentang pendirian beberapa Pura di Bali termasuk Pura Goa Lawah dan juga memuat tahun saka 929 atau tahun 107 Masehi.
6. PURA ULUNDANU BRATAN

Pura
Ulun Danu terletak di Desa Candi Kuning Tabanan yang juga dekat dengan
Bedugul. Pura ini merupakan sebuah candi air besar di Bali.Candi ini
terletak di tepi barat laut Danau Beratan di pegunungan dekat Bedugul,di
tepi hilir ada banyak candi kecil air yang spesifik untuk setiap
asosiasi irigasi.Candi ini berfungsi untuk upacara pesembahan untuk
dewi-dewi danu atau dewi air. Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan
sendiri dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalam Lontar
Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan
bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti
Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti
Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan
pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu
(Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu
Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang
merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi
Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura ulun Danu Beratan.
Dalam Lontar Babad Mengwi juga dikisahkan bahwa pendirian pura ini dilakukan kira-kira sebelum tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, atau sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pura Taman Ayun, sebuah pura lain yang juga didirikan oleh I Gusti Agung Putu. Pendirian Pura Ulun Danu Beratan konon telah membuat masyhur Kerajaan Mengwi dan rajanya, sehingga I Gusti Agung Putu dijuluki “I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya.
Dalam Lontar Babad Mengwi juga dikisahkan bahwa pendirian pura ini dilakukan kira-kira sebelum tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, atau sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pura Taman Ayun, sebuah pura lain yang juga didirikan oleh I Gusti Agung Putu. Pendirian Pura Ulun Danu Beratan konon telah membuat masyhur Kerajaan Mengwi dan rajanya, sehingga I Gusti Agung Putu dijuluki “I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya.
7. PURA ULUNDANU BATUR
Pura
Batur yang lebih dikenal dengan Pura Ulun Danu terletak pada ketinggian
900 m di atas permukaan laut tepatnya di Desa Kalanganyar Kecamatan
Kintamani di sebelah Timur jalan raya Denpasar-Singaraja. Pura Besakih
disebut Pura Purusa, sedangkan Pura Batur disebut Pura Pradana. Di Pura
Besakih, Tuhan dipuja untuk menguatkan jiwa kerohanian umat untuk
mencapai kebahagiaan spiritual. Sedangkan di Pura Batur, Tuhan dipuja
untuk menguatkan spiritual umat dalam membangun kemakmuran ekonomi.
Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur
semula terletak di kaki Gunung itu dekat tepi Barat Daya Danau Batur
yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura dan lebih dari ribuan
kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura.
Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, tempat pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tugas mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, tempat pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tugas mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Beberapa
lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan
bagian dari “sad kayangan” enam kelompok Pura yang ada di Bali yang
tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek
Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat”
yang disungsung oleh masyarakat umum. Sejarah Pura Batur merupakan
persembahan untuk Dewi Kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air
danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir
dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke
bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan
di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi
Danu.
8. PURA LEMPUYANG

Pura
Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem ini juga
merupakan pura yang sangat terkenal di Bali, konon katanya Pura ini
adalah pura tertua di Bali, sebenarnya cukup sulit untuk menjelaskan
secara rinci tentang sejarah Pura Lempuyang ini, Sementara ini baru
diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak
langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad” dan
keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul.
Naskah
turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang
isinya menyebutkan sebagai berikut ” Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan
ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari
itu beliau Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin
perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya
yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana
di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh
pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja
Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.”
Prasasti
Kutarakanda DewaPurana Bangsul, di dalam Lontar Kutarakanda DewaPurana
Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara
Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya
kira-kira sebagai berikut ” Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara
kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang
Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah
perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke
Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana”
Dari
kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil
yaitu: Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata
Lempuyang berarti “Gamongan” gunung Lempuyang berarti gunung gamongan
atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan
sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura
Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura.
9. PURA WATU KLOTOK

Apakah
anda ingat ketika Bali terkena ledakan Bom Bali untuk yang kedua kalinya
dan Bencana Tsunami di aceh? Pasca kedua bencana tersebut, di pura yang
terletak di bibir pantai selatan kota Semarapura ini berlangsung dua
kali upacara permohonan keselamatan dan kesucian dunia. Pantai Watu
Klotok terletak di Banjar Celepik, Desa Tojan, Kabupaten Klungkung
sekitar 7 km dari Pusat Kota Semarapura.
Pura
ini sangat berdekatan dengan pantai yang namanya sama dengan Pura ini.
Pura Watu Klotok memiliki arti watu dalam bahasa Bali adalah Batu.
Sedangkan Klotok memiliki artian “berbunyi“, jadi asal mula penamaannya
yaitu ditemukannya sebuah batu yang berbunyi di pantai Watu Klotok ini.
Sejarah singkat pendirian pura ini adalah ketika Mpu Kuturan melakukan
perjalanan suci ke Bali pada abad ke-10 masehi.
Dalam
Lontar Dewa Purana Bangsul yang antara lain memuat: “Beliau Hyang Raja
Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama Silajong Watu
Klotok, demikian disebut orang, mendirikan pura buat menjaga upacara
untuk danau, mendatangkan hujan lebat, mengalirkan air selalu membawa
kehidupan segala tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian”. Beliau Hyang
Raja Kertha tiada lain adalah Mpu Kuturan.
Sebenarnya
masih banyak lagi pura pura di Bali yang memiliki sejarah menarik untuk
diketahui. Nah, apakah anda tertarik untuk mengunjungi pura pura yang
disebutkan diatas? Anda bisa menambahkan daftar kunjungan wisata anda,
dengan mengunjungi pura pura yang di sakralkan ini, dan ketika anda
mengunjungi pura pura ini, jangan lupa untuk tetap dan ikut menjaga
kesucian serta kebersihan di area Pura.

Komentar
Posting Komentar